Fenomena Dubsmash yang Merajalela di Dunia

By | 24/07/2015

pejuang toga
Di era globalisasi yang berbau liberalisasi ini Ketergantungan manusia dengan internet saat ini memang tidak dapat dielakkan lagi. Dahsyatnya transfer informasi oleh internet, membuat dunia semakin terasa kecil karena mampu mendekatkan komunikasi antar manusia dari belahan dunia manapun. Berbagai tren bermunculan begitu saja melalui internet. Dulu  muncul fenomena selfie, sekarang ada baru lagi yaitu fenomena dubsmash. Dubsmash memang menjadi sangat fenomenal saat ini sejak dirilis

November 2014, aplikasi ini telah diunduh oleh 50 Juta lebih pengguna smartphone. Hebatnya lagi, tak hanya orang awam aplikasi ini juga diminati oleh selebriti dunia yang turut menaikkan popularitas Dubsmash. Dengan men’dubbing ‘suara dari klip video terkenal, pengguna aplikasi ini hanya perlu menggerakkan mulut dan membuat sedikit aksi untuk menyamai suara asli dalam aplikasi itu.

pejuang toga

Tidak pasti dimana salahnya, namun fenomena ini mungkin dianggap sebagai video lawak untuk hiburan semata dan ada juga menganggap itu seperti membodohi diri sendiri.Saat ini bahkan tiap hari bermunculan video dubsmash baru dengan keunikan masing-masing. Namun dengan munculnya fenomena ini mungkin menimbulkan suatu pro-kontra. Biasalah namanya suatu fenomena baru yang terkenal akan menimbulkan pro dan kontra. Pada masa-masa lampau tidak ada seperti fenomena ini dan mungkin orang-orang dewasa mendekati tua melihat fenomena dengan sedikit kenyit di dahi, ada yang senyum ada pula yang menganggap itu suatu tindakan bodoh. Namun apa daya zaman telah mengarah ke kemajuan teknologi yang pesat, sehingga fenomena baru dapat secara luas tersebat di seluruh penjuru dunia dalam waktu yang singkat.
Suka atau tidak suka fenomena-fenomena baru akan datang silih berganti, tinggal bagaimana saja kita menganggapinya, saring dan ambil sisi positif serta buang sisi negative. Mari menjadi pemuda pemudi yang cerdas. Kemajuan bangsa dimulai dari kecerdasan para pemuda pemudi penerusnya. 
(Era Pemuda, 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *